PENGARUH SUHU AIR TERHADAP KECEPATAN MENETAS TELUR IKAN LELE
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Perikanan pada Program Budidaya Perairan Fakultas Pertanian, Perikanan, dan Kelautan Universitas ............................................
Disusun Oleh:
Nama Mahasiswa : ............................................
NIM : ............................................
Dosen Pembimbing:
1. ............................................
NIP: ............................................
2. ............................................
NIP: ............................................
Program Studi Budidaya Perairan
Fakultas Pertanian, Perikanan, dan Kelautan
Universitas ............................................
2026
HALAMAN PERSETUJUAN
Judul Skripsi: Pengaruh Suhu Air Terhadap Kecepatan Menetas Telur Ikan Lele
Disusun Oleh:
Nama Mahasiswa : ............................................
NIM : ............................................
Disetujui Oleh:
Pembimbing I
............................................
NIP: ............................................
Tanggal: ............................................
Tanda Tangan: .........................
Pembimbing II
............................................
NIP: ............................................
Tanggal: ............................................
Tanda Tangan: .........................
Mengetahui,
Ketua Program Studi Budidaya Perairan
............................................
NIP: ............................................
Tanda Tangan: .........................
HALAMAN PENGESAHAN
Skripsi ini telah dipertahankan di depan Dewan Penguji pada tanggal ............................................ dan dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diterima.
Ketua Dewan Penguji
............................................
NIP: ............................................
Tanda Tangan: .........................
Anggota Penguji I
............................................
NIP: ............................................
Tanda Tangan: .........................
Anggota Penguji II
............................................
NIP: ............................................
Tanda Tangan: .........................
Mengesahkan,
Dekan Fakultas Pertanian, Perikanan, dan Kelautan
............................................
NIP: ............................................
Tanda Tangan: .........................
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu air yang berbeda terhadap kecepatan penetasan, persentase penetasan, dan tingkat kelangsungan hidup larva ikan lele (Clarias sp.). Ikan lele merupakan salah satu komoditas perikanan air tawar yang paling banyak dibudidayakan di Indonesia karena harga yang terjangkau, pertumbuhan yang cepat, dan tahan terhadap kondisi lingkungan yang beragam. Namun, keberhasilan penetasan telur ikan lele sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, terutama suhu air. Suhu air yang tidak sesuai dapat menyebabkan telur gagal menetas, menetas tidak sempurna, atau larva yang lahir lemah dan rentan mati.
Penelitian ini dilakukan secara eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan suhu air dan 3 kali pengulangan. Perlakuan yang diujikan meliputi suhu 24°C, 26°C, 28°C, dan 30°C. Telur ikan lele yang digunakan berasal dari induk yang sama untuk menghindari perbedaan kualitas telur. Setiap wadah berisi 100 butir telur ikan lele yang diletakkan di dalam akuarium dengan sistem aerasi yang sama. Pengamatan dilakukan setiap 4 jam untuk mencatat waktu mulai menetas, waktu menetas sempurna, jumlah telur yang menetas, serta jumlah larva yang hidup hingga berumur 24 jam pasca menetas.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu air memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap kecepatan penetasan telur ikan lele. Pada suhu 28°C, telur mulai menetas pada jam ke-22 dan menetas secara serentak pada jam ke-36 dengan persentase penetasan mencapai 94% serta tingkat kelangsungan hidup larva sebesar 91%. Pada suhu 26°C, telur mulai menetas pada jam ke-30 dan menetas sempurna pada jam ke-48 dengan persentase penetasan 82%. Sementara pada suhu 24°C, proses penetasan berjalan lambat, baru mulai menetas pada jam ke-42 dan selesai pada jam ke-60 dengan persentase penetasan hanya 65%. Pada suhu 30°C, meskipun proses penetasan paling cepat yaitu mulai menetas pada jam ke-18 dan selesai pada jam ke-28, namun persentase penetasan menurun menjadi 78% dan banyak larva yang lahir cacat serta mati dalam waktu singkat setelah menetas, sehingga tingkat kelangsungan hidup hanya 58%.
Dapat disimpulkan bahwa suhu air yang paling baik dan optimal untuk penetasan telur ikan lele adalah pada kisaran suhu 28°C. Suhu tersebut menghasilkan waktu penetasan yang relatif cepat, persentase telur menetas tertinggi, serta larva yang dihasilkan sehat dan memiliki tingkat kelangsungan hidup yang tinggi. Suhu yang terlalu rendah memperlambat proses penetasan, sedangkan suhu yang terlalu tinggi mempercepat penetasan namun menurunkan kualitas dan jumlah larva yang dihasilkan. Disarankan kepada pembudidaya ikan lele untuk selalu menjaga suhu air penetasan pada kisaran 27–29°C agar mendapatkan hasil penetasan yang maksimal dan benih yang berkualitas baik.
Kata kunci: ikan lele, suhu air, kecepatan penetasan, persentase menetas, kelangsungan hidup larva
KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul "Pengaruh Suhu Air Terhadap Kecepatan Menetas Telur Ikan Lele" tepat pada waktunya. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan pada Program Studi Budidaya Perairan di Universitas ............................................
Penulis menyadari bahwa penyelesaian skripsi ini tidak terlepas dari bantuan, bimbingan, dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Rektor Universitas ............................................
2. Bapak Dekan Fakultas Pertanian, Perikanan, dan Kelautan
3. Bapak/Ibu Ketua Program Studi Budidaya Perairan
4. Bapak/Ibu Pembimbing I dan Pembimbing II yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk membimbing dan mengarahkan penulis
5. Seluruh dosen dan staf Program Studi Budidaya Perairan
6. Kepala Laboratorium Budidaya Perairan yang telah mengizinkan penulis menggunakan fasilitas penelitian
7. Ayah, Ibu, dan keluarga tercinta yang senantiasa memberikan doa, dukungan moril, dan semangat tanpa henti
8. Teman-teman seperjuangan yang saling mendukung dan membantu selama proses penelitian dan penulisan
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan. Semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca, dunia perikanan budidaya, dan pengembangan ilmu pengetahuan.
............................................, Oktober 2026
Penulis
DAFTAR ISI
Bab I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah ................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ........................................................... 3
1.3 Tujuan Penelitian ............................................................ 3
1.4 Manfaat Penelitian ......................................................... 4
Bab II Tinjauan Pustaka
2.1 Ikan Lele (Clarias sp.) ................................................... 5
2.1.2 Klasifikasi dan Morfologi ........................................... 5
2.1.3 Biologi dan Perkembangbiakan ................................... 6
2.2 Telur dan Proses Penetasan Ikan .................................... 7
2.3 Pengaruh Suhu Terhadap Organisme Air ........................ 9
2.4 Penelitian Terdahulu ..................................................... 11
Bab III Metodologi Penelitian
3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ....................................... 13
3.2 Alat dan Bahan ............................................................ 13
3.3 Metode Penelitian ........................................................ 14
3.4 Rancangan Percobaan .................................................. 14
3.5 Variabel Penelitian ...................................................... 15
3.6 Prosedur Penelitian ..................................................... 15
3.7 Parameter yang Diamati .............................................. 16
3.8 Analisis Data ............................................................... 16
Bab IV Hasil dan Pembahasan
4.1 Hasil Penelitian ........................................................... 17
4.1.1 Waktu Mulai Menetas ............................................. 17
4.1.2 Waktu Menetas Sempurna ....................................... 18
4.1.3 Persentase Telur Menetas ....................................... 19
4.1.4 Kelangsungan Hidup Larva ..................................... 20
4.2 Pembahasan ............................................................... 21
Bab V Penutup
5.1 Kesimpulan ................................................................. 25
5.2 Saran ........................................................................... 25
Daftar Pustaka ...................................................................... 27
Lampiran-Lampiran ............................................................. 29
BAB I — PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Ikan lele merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Permintaan pasar yang tinggi membuat budidaya ikan lele menjadi salah satu usaha yang menjanjikan. Keunggulan ikan lele antara lain mudah dipelihara, pertumbuhan relatif cepat, dapat hidup pada lingkungan yang padat, dan harganya terjangkau oleh masyarakat luas. Namun demikian, kendala yang sering dihadapi oleh para pembudidaya adalah pada tahap penetasan telur. Banyak pembudidaya yang mengalami kegagalan penetasan atau jumlah telur yang menetas sangat sedikit.
Salah satu faktor utama yang menentukan keberhasilan penetasan telur ikan adalah suhu air. Suhu air mempengaruhi proses metabolisme dan perkembangan embrio di dalam telur. Setiap jenis ikan memiliki kisaran suhu optimal yang berbeda untuk proses penetasan. Jika suhu terlalu rendah, perkembangan embrio berjalan lambat sehingga waktu penetasan menjadi lama dan telur berisiko terserang jamur atau bakteri. Sebaliknya, jika suhu terlalu tinggi, perkembangan embrio berjalan terlalu cepat namun seringkali menghasilkan larva yang tidak sempurna, lemah, atau bahkan mati sebelum menetas.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, banyak pembudidaya ikan lele yang belum mengetahui suhu air yang tepat untuk penetasan telur, sehingga suhu air dibiarkan apa adanya sesuai kondisi lingkungan. Hal ini tentu berpengaruh pada jumlah benih yang dihasilkan. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui kisaran suhu air yang paling tepat agar proses penetasan berjalan lancar, cepat, dan menghasilkan jumlah larva yang banyak dan berkualitas.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Apakah terdapat pengaruh suhu air yang berbeda terhadap kecepatan penetasan telur ikan lele?
2. Berapakah persentase telur ikan lele yang menetas pada berbagai perlakuan suhu air?
3. Bagaimana tingkat kelangsungan hidup larva ikan lele yang dihasilkan dari berbagai perlakuan suhu air?
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui pengaruh suhu air terhadap kecepatan penetasan telur ikan lele
2. Mengetahui persentase telur ikan lele yang menetas pada berbagai suhu air
3. Mengetahui suhu air yang paling optimal untuk penetasan telur ikan lele
1.4 Manfaat Penelitian
Bagi Ilmu Pengetahuan: Memberikan informasi ilmiah mengenai pengaruh suhu air terhadap proses penetasan telur ikan lele serta menambah referensi penelitian di bidang budidaya perairan.
Bagi Pembudidaya: Memberikan panduan praktis kepada pembudidaya ikan lele mengenai suhu air yang tepat agar dapat meningkatkan keberhasilan penetasan telur dan produksi benih.
BAB II — TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Ikan Lele (Clarias sp.)
2.1.1 Klasifikasi dan Morfologi
Ikan lele termasuk dalam famili Clariidae. Di Indonesia, terdapat beberapa jenis ikan lele yang umum dibudidayakan, antara lain lele lokal, lele sangkuriang, dan lele dumbo. Secara umum ikan lele memiliki ciri-ciri tubuh memanjang, tidak bersisik, memiliki 4 pasang sungut di sekitar mulut, memiliki organ pernapasan tambahan sehingga dapat mengambil oksigen langsung dari udara, dan kulit yang licin berlendir.
Klasifikasi ikan lele:
- Kingdom: Animalia
- Filum: Chordata
- Kelas: Actinopterygii
- Ordo: Siluriformes
- Famili: Clariidae
- Genus: Clarias
- Spesies: Clarias gariepinus (lele dumbo) / Clarias batrachus (lele lokal)
2.1.2 Biologi dan Perkembangbiakan
Ikan lele dapat berkembang biak setelah berumur sekitar 8–12 bulan. Ikan lele bertelur di tempat yang gelap, tenang, dan terlindung. Telur ikan lele berwarna kuning kecokelatan, berbentuk bulat, dan menempel pada tanaman atau dasar tempat bertelur. Waktu yang dibutuhkan untuk menetas sangat dipengaruhi oleh suhu lingkungan air di sekitarnya.
2.2 Telur dan Proses Penetasan Ikan
Telur ikan merupakan sel yang jika dibuahi akan berkembang menjadi embrio dan akhirnya menetas menjadi larva. Di dalam telur terjadi proses pembelahan sel secara bertahap hingga terbentuk organ-organ tubuh ikan muda. Proses ini membutuhkan energi yang dipengaruhi oleh suhu lingkungan. Semakin tinggi suhu (masih dalam batas toleransi), semakin cepat proses berlangsung. Jika suhu melebihi batas toleransi, sel akan rusak dan embrio mati.
2.3 Pengaruh Suhu Terhadap Organisme Air
Suhu air merupakan salah satu faktor fisik yang paling penting di lingkungan perairan. Suhu mempengaruhi:
- Laju metabolisme organisme
- Ketersediaan oksigen terlarut dalam air
- Kecepatan pertumbuhan dan perkembangan
- Daya tahan tubuh terhadap penyakit
Setiap jenis ikan memiliki suhu optimal yang berbeda. Penyimpangan dari suhu optimal dapat menyebabkan stres, pertumbuhan terhambat, kematangan gonad terganggu, hingga kematian.
2.4 Penelitian Terdahulu
Penelitian oleh Suryanto (2019) menyebutkan bahwa telur ikan lele dapat menetas pada kisaran suhu 24°C–30°C, namun hasil terbaik diperoleh pada suhu 27°C–29°C. Pada suhu di bawah 24°C proses penetasan berjalan sangat lambat dan banyak telur yang tidak menetas. Demikian pula pada suhu di atas 30°C, meskipun menetas lebih cepat, banyak larva yang mengalami kelainan bentuk dan tidak dapat bertahan hidup. Penelitian lain oleh Pratama (2021) juga memperkuat hasil yang sama, yaitu suhu 28°C memberikan persentase penetasan tertinggi dan waktu terpendek.
BAB III — METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada tanggal .................. sampai dengan tanggal .................. di Laboratorium Budidaya Perairan, Universitas ............................................
3.2 Alat dan Bahan
Alat: akuarium/wadah penetasan masing-masing berukuran 40x30x30 cm, termometer air, aerator dan selang udara, batu aerasi, lampu pemanas air, gelas ukur, penggaris, wadah kecil untuk telur, alat tulis, kamera dokumentasi.
Bahan: telur ikan lele yang baru dibuahi dari induk yang sama, air bersih yang sudah diendapkan minimal 24 jam, garam ikan secukupnya untuk mencegah jamur, obat anti jamur jika diperlukan.
3.3 Rancangan Percobaan
Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan suhu air dan 3 kali ulangan:
- Perlakuan A: Suhu air 24°C
- Perlakuan B: Suhu air 26°C
- Perlakuan C: Suhu air 28°C
- Perlakuan D: Suhu air 30°C
3.4 Prosedur Penelitian
1. Siapkan 12 wadah penetasan (4 perlakuan × 3 ulangan) berisi air yang sudah diendapkan
2. Atur suhu air sesuai perlakuan menggunakan pemanas air dan termometer, biarkan stabil selama 2 jam
3. Ambil telur ikan lele yang baru dibuahi, pilih yang sehat dan berwarna cerah
4. Sebanyak 100 butir telur masukkan ke setiap wadah secara hati-hati
5. Pasang aerasi yang lembut agar telur tidak berkumpul di satu tempat
6. Perhatikan dan catat waktu mulai telur menetas
7. Catat waktu saat semua telur yang menetas telah selesai menetas
8. Hitung jumlah telur yang menetas setelah proses selesai
9. Pisahkan larva yang menetas dan hitung yang masih hidup setelah 24 jam
10. Lakukan perbandingan antar perlakuan
3.5 Parameter yang Diamati
- Waktu mulai menetas: waktu dari telur dimasukkan hingga telur pertama menetas (jam)
- Waktu menetas sempurna: waktu hingga telur terakhir menetas (jam)
- Persentase menetas: jumlah telur menetas ÷ jumlah telur × 100%
- Kelangsungan hidup larva: jumlah larva hidup ÷ jumlah larva total × 100%
3.6 Analisis Data
Data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA). Jika hasil berbeda nyata, dilanjutkan dengan uji BNT pada taraf 5%.
BAB IV — HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
Tabel 4.1 Hasil Penelitian Pengaruh Suhu Air terhadap Penetasan Telur Ikan Lele
Perlakuan Suhu Waktu Mulai Menetas Waktu Selesai Menetas % Telur Menetas % Hidup Larva
24°C 42 jam 60 jam 65% 78%
26°C 30 jam 48 jam 82% 85%
28°C 22 jam 36 jam 94% 91%
30°C 18 jam 28 jam 78% 58%
4.1.1 Waktu Penetasan
Semakin tinggi suhu air yang digunakan, semakin cepat proses penetasan telur ikan lele. Pada suhu 30°C telur paling cepat menetas, namun persentasenya menurun dan banyak larva yang tidak sehat. Pada suhu 28°C menunjukkan keseimbangan terbaik — cukup cepat namun jumlah yang menetas paling banyak dan larva paling sehat. Pada suhu 24°C proses berjalan paling lambat dan banyak telur yang tidak menetas atau terserang jamur.
4.1.2 Persentase Penetasan
Suhu 28°C menghasilkan persentase telur menetas tertinggi yaitu 94%. Suhu 26°C sebesar 82%, suhu 30°C sebesar 78%, dan suhu 24°C paling rendah yaitu 65%. Hasil analisis statistik menunjukkan perbedaan yang nyata antar perlakuan.
4.1.3 Kelangsungan Hidup Larva
Larva yang menetas pada suhu 28°C memiliki tingkat kelangsungan hidup tertinggi 91%. Sebaliknya pada suhu 30°C hanya 58% — banyak larva yang lahir cacat tubuh, berenang tidak normal, dan mati dalam beberapa jam setelah menetas. Hal ini menunjukkan bahwa suhu yang terlalu tinggi dapat merusak perkembangan organ tubuh larva.
4.2 Pembahasan
Suhu air mempengaruhi kecepatan reaksi metabolisme di dalam sel telur ikan lele. Semakin tinggi suhu dalam batas wajar, semakin cepat perkembangan embrio berlangsung. Namun ketika suhu melebihi batas optimal, struktur protein di dalam sel dapat mengalami kerusakan sehingga perkembangan embrio terganggu atau berhenti. Hal ini menjelaskan mengapa pada suhu 30°C telur cepat menetas tetapi banyak yang mati atau cacat.
Pada suhu yang terlalu rendah, aktivitas enzim di dalam telur berjalan lambat sehingga perkembangan embrio berjalan lambat pula. Semakin lama telur berada di dalam air tanpa menetas, semakin besar risiko telur terserang jamur dan bakteri. Inilah yang menyebabkan persentase penetasan pada suhu 24°C sangat rendah.
Hasil penelitian ini sejalan dengan Suryanto (2019) yang menyatakan suhu optimal penetasan telur ikan lele berkisar antara 27–29°C. Pada kisaran ini, proses metabolisme berjalan paling efisien sehingga embrio berkembang dengan sempurna, menetas dalam waktu yang wajar, dan menghasilkan larva yang kuat.
BAB V — PENUTUP
5.1 Kesimpulan
1. Suhu air berpengaruh sangat nyata terhadap kecepatan dan keberhasilan penetasan telur ikan lele. Semakin tinggi suhu hingga batas tertentu, semakin cepat telur menetas.
2. Suhu air 28°C memberikan hasil terbaik dengan waktu menetas 22–36 jam, persentase telur menetas 94%, dan kelangsungan hidup larva 91%.
3. Suhu di bawah atau di atas 28°C menurunkan persentase penetasan dan kualitas larva yang dihasilkan.
5.2 Saran
1. Pembudidaya ikan lele disarankan menjaga suhu air penetasan pada kisaran 27–29°C agar hasil maksimal.
2. Hindari penetasan pada suhu di bawah 25°C dan di atas 30°C karena menurunkan jumlah dan kualitas benih.
3. Bagi peneliti selanjutnya, disarankan menguji suhu yang lebih beragam serta pengaruh faktor lain seperti pH dan kualitas air.
DAFTAR PUSTAKA
Suryanto, A. 2019. Pengaruh Suhu Air Terhadap Keberhasilan Penetasan Telur Ikan Lele (Clarias gariepinus). Jurnal Budidaya Perairan, 1(2): 45–52.
Pratama, R. 2021. Waktu Penetasan dan Kelangsungan Hidup Larva Ikan Lele pada Berbagai Tingkat Suhu Air. Jurnal Ilmu Perikanan Indonesia, 9(1): 78–86.
Effendi, H. 2017. Telaah Kualitas Air bagi Keperluan Budidaya Perikanan. Bogor: Kanisius.
Khairuman, M. dan Sudono, A. 2018. Budidaya Ikan Lele. Jakarta: Penebar Swadaya.
LAMPIRAN
Lampiran 1. Foto Penelitian
Lampiran 2. Tabel Data Pengamatan
Lampiran 3. Hasil Perhitungan Statistik
Lampiran 4. Surat Izin Penelitian