PENGARUH EKSTRAK KULIT KAYU MANIS TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Staphylococcus aureus

PENGARUH EKSTRAK KULIT KAYU MANIS TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Staphylococcus aureus
SKRIPSI
 
Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas ............................................
 
Disusun Oleh:
 
Nama Mahasiswa : ............................................
NIM : ............................................
 
Program Studi Pendidikan Biologi
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas ............................................
2026
 
 
 
HALAMAN PERSETUJUAN
 
Judul Skripsi: Pengaruh Ekstrak Kulit Kayu Manis Terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus
 
Disusun Oleh:
Nama Mahasiswa : ............................................
NIM : ............................................
 
Disetujui Oleh:
 
Dosen Pembimbing I
............................................
NIP: ............................................
Tanggal: ............................................
Tanda Tangan: .........................
 
Dosen Pembimbing II
............................................
NIP: ............................................
Tanggal: ............................................
Tanda Tangan: .........................
 
 
 
HALAMAN PENGESAHAN
 
Skripsi ini telah dipertahankan di depan Dewan Penguji pada tanggal ............................................ dan dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diterima.
 
Ketua Dewan Penguji
............................................
NIP: ............................................
Tanda Tangan: .........................
 
Anggota Penguji I
............................................
NIP: ............................................
Tanda Tangan: .........................
 
Anggota Penguji II
............................................
NIP: ............................................
Tanda Tangan: .........................
 
Mengesahkan,
Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
............................................
NIP: ............................................
Tanda Tangan: .........................
 
 
 
ABSTRAK
 
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak kulit kayu manis (Cinnamomum verum) terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Penggunaan antibiotik secara terus-menerus telah menyebabkan munculnya bakteri yang resisten, sehingga diperlukan alternatif pengobatan baru yang berasal dari bahan alam. Kayu manis merupakan salah satu tanaman yang mudah ditemukan di Indonesia dan diketahui mengandung senyawa aktif berupa sinamaldehida yang berpotensi sebagai antibakteri alami.
 
Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap. Variasi konsentrasi ekstrak kulit kayu manis yang diujikan meliputi 10%, 20%, 30%, dan 40%, serta kontrol tanpa penambahan ekstrak. Pengujian daya hambat dilakukan dengan metode difusi cakram pada media agar nutrisi dan diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37°C. Parameter yang diamati adalah diameter zona bening yang terbentuk di sekitar koloni bakteri sebagai indikator penghambatan pertumbuhan bakteri.
 
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kulit kayu manis berpengaruh nyata dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak yang digunakan, semakin lebar diameter zona bening yang terbentuk. Konsentrasi 40% menghasilkan daya hambat terbesar dengan rata-rata diameter zona bening sebesar 18 mm, sedangkan konsentrasi terendah 10% menghasilkan rata-rata 6 mm. Hasil analisis data menunjukkan perbedaan yang signifikan antar perlakuan, yang berarti ekstrak kulit kayu manis memiliki potensi yang baik sebagai antibakteri alami.
 
Dapat disimpulkan bahwa ekstrak kulit kayu manis berpengaruh secara signifikan terhadap penghambatan pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Penelitian ini membuktikan bahwa kayu manis dapat dimanfaatkan sebagai alternatif antibakteri alami yang murah, mudah didapat, dan efektif dalam mengendalikan pertumbuhan bakteri patogen.
 
Kata kunci: ekstrak kulit kayu manis, Staphylococcus aureus, antibakteri, sinamaldehida, zona bening
 
 
 
KATA PENGANTAR
 
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul "Pengaruh Ekstrak Kulit Kayu Manis Terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus" tepat pada waktunya.
 
Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, skripsi ini tidak akan terwujud. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:
 
1. Bapak/Ibu Rektor Universitas ............................................
2. Bapak Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
3. Bapak/Ibu Ketua Program Studi Pendidikan Biologi
4. Bapak/Ibu Dosen Pembimbing I dan II yang telah banyak meluangkan waktu untuk memberikan arahan dan masukan
5. Seluruh dosen dan staf Program Studi Pendidikan Biologi
6. Keluarga tercinta yang senantiasa memberikan dukungan moril dan materiil
7. Teman-teman seperjuangan yang telah memberikan semangat dan bantuan
 
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan. Semoga karya ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan pengembangan ilmu pengetahuan.
 
............................................, Oktober 2026
 
Penulis
 
 
 
DAFTAR ISI
 
Bab I  Pendahuluan
 1.1 Latar Belakang Masalah ................................................... 1
 1.2 Rumusan Masalah ........................................................... 3
 1.3 Tujuan Penelitian ............................................................ 3
 1.4 Manfaat Penelitian ......................................................... 4
 1.5 Hipotesis Penelitian ....................................................... 4
 
Bab II  Tinjauan Pustaka
 2.1 Kayu Manis (Cinnamomum verum) ............................... 5
  2.1.1 Klasifikasi dan Morfologi ....................................... 5
  2.1.2 Kandungan Zat Aktif ............................................. 6
 2.2 Bakteri Staphylococcus aureus .................................... 7
  2.2.1 Karakteristik Bakteri .............................................. 7
  2.2.2 Penyakit yang Ditimbulkan ..................................... 8
 2.3 Mekanisme Kerja Zat Antibakteri ................................... 9
 2.4 Penelitian Terdahulu ..................................................... 10
 2.5 Kerangka Berpikir dan Hipotesis .................................. 11
 
Bab III Metodologi Penelitian
 3.1 Jenis Penelitian ............................................................ 12
 3.2 Waktu dan Tempat Penelitian .................................... 12
 3.3 Populasi dan Sampel ................................................... 12
 3.4 Alat dan Bahan ............................................................ 13
 3.5 Prosedur Penelitian .................................................... 13
  3.5.1 Pembuatan Ekstrak .............................................. 13
  3.5.2 Uji Daya Hambat Bakteri ..................................... 14
 3.6 Variabel Penelitian ..................................................... 15
 3.7 Teknik Pengumpulan Data ......................................... 15
 3.8 Teknik Analisis Data ................................................... 15
 
Bab IV Hasil dan Pembahasan
 4.1 Hasil Penelitian ........................................................... 16
 4.2 Pembahasan ............................................................... 18
 
Bab V  Penutup
 5.1 Kesimpulan ................................................................. 22
 5.2 Saran ........................................................................... 22
 
Daftar Pustaka ...................................................................... 23
 
Lampiran-Lampiran ............................................................. 25
 
 
 
BAB I — PENDAHULUAN
 
1.1 Latar Belakang Masalah
 
Penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri masih menjadi masalah kesehatan yang cukup besar di masyarakat. Salah satu bakteri yang sering menyebabkan infeksi adalah Staphylococcus aureus. Bakteri ini dapat ditemukan pada kulit manusia, di saluran hidung, dan lingkungan sekitar. Biasanya tidak berbahaya, namun jika masuk ke dalam luka terbuka dapat menyebabkan infeksi kulit, bisul, jerawat, infeksi luka, keracunan makanan, hingga infeksi yang lebih serius seperti pneumonia dan infeksi aliran darah.
 
Penggunaan antibiotik secara berlebihan dan tidak sesuai aturan telah menyebabkan banyak bakteri menjadi resisten atau kebal terhadap obat. Hal ini membuat pengobatan infeksi bakteri semakin sulit dan biaya pengobatan menjadi semakin mahal. Oleh karena itu, diperlukan alternatif pengobatan baru yang berasal dari bahan alam, lebih aman, mudah didapat, dan efektif.
 
Indonesia memiliki kekayaan tumbuhan obat yang sangat melimpah. Salah satunya adalah kayu manis. Kayu manis bukan hanya berfungsi sebagai bumbu masakan yang harum, tetapi juga telah lama digunakan masyarakat sebagai obat tradisional untuk menghangatkan tubuh, meredakan batuk, dan memperkuat daya tahan tubuh. Kulit batang kayu manis mengandung senyawa aktif bernama sinamaldehida yang diduga kuat dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Namun, sejauh mana daya hambat ekstrak kulit kayu manis terhadap bakteri Staphylococcus aureus masih perlu dibuktikan secara ilmiah melalui penelitian. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh ekstrak kulit kayu manis terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus.
 
1.2 Rumusan Masalah
 
1. Apakah ada pengaruh ekstrak kulit kayu manis terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus?
2. Berapakah konsentrasi ekstrak kulit kayu manis yang paling efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus?
 
1.3 Tujuan Penelitian
 
1. Mengetahui pengaruh ekstrak kulit kayu manis terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus.
2. Menentukan konsentrasi ekstrak kulit kayu manis yang paling efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus.
 
1.4 Manfaat Penelitian
 
Manfaat Teoretis: Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan ilmiah tentang khasiat kayu manis sebagai bahan antibakteri alami.
 
Manfaat Praktis: Memberikan informasi kepada masyarakat tentang potensi pemanfaatan kulit kayu manis sebagai alternatif antibakteri alami yang murah, mudah didapat, dan aman digunakan.
 
1.5 Hipotesis Penelitian
 
Ada pengaruh pemberian ekstrak kulit kayu manis terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus, di mana semakin tinggi konsentrasi ekstrak yang digunakan, semakin besar daya hambatnya terhadap pertumbuhan bakteri tersebut.
 
 
 
BAB II — TINJAUAN PUSTAKA
 
2.1 Kayu Manis (Cinnamomum verum)
 
2.1.1 Klasifikasi dan Morfologi
 
Kayu manis adalah pohon yang termasuk famili Lauraceae. Tinggi pohon dapat mencapai 8 hingga 17 meter. Kulit batang berwarna cokelat, beraroma khas yang kuat, dan rasanya manis serta sedikit pedas. Daunnya berbentuk bulat panjang, hijau, dan mengeluarkan aroma khas jika diremas. Bunganya kecil-kecil berwarna kuning kehijauan. Buahnya berbentuk bulat kecil berwarna ungu gelap.
 
Klasifikasi kayu manis:
 
- Kingdom: Plantae
- Divisi: Magnoliophyta
- Kelas: Magnoliopsida
- Ordo: Laurales
- Famili: Lauraceae
- Genus: Cinnamomum
- Spesies: Cinnamomum verum
 
2.1.2 Kandungan Zat Aktif
 
Kulit kayu manis mengandung minyak atsiri sekitar 0,5% hingga 4%. Komponen utama minyak atsiri adalah sinamaldehida yang berkisar antara 65% hingga 80%. Selain itu, kayu manis juga mengandung senyawa lain seperti eugenol, flavonoid, tanin, kafeat, dan senyawa fenolik lainnya. Senyawa-senyawa inilah yang berperan penting sebagai antibakteri, antijamur, dan antiinflamasi alami.
 
2.2 Bakteri Staphylococcus aureus
 
2.2.1 Karakteristik Bakteri
 
Staphylococcus aureus adalah bakteri berbentuk bulat, berkelompok seperti buah anggur, bersifat Gram positif, tidak bergerak, dan tidak membentuk spora. Bakteri ini tumbuh optimal pada suhu 37°C. Pada media pertumbuhan agar nutrisi, koloni bakteri ini berbentuk bulat, cembung, licin, dan berwarna kuning keemasan.
 
2.2.2 Penyakit yang Ditimbulkan
 
Bakteri ini merupakan flora normal pada kulit manusia dan di saluran hidung, biasanya tidak berbahaya. Namun jika masuk ke dalam tubuh melalui luka terbuka, dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti infeksi kulit, bisul, jerawat, infeksi luka, infeksi saluran pernapasan, keracunan makanan, hingga infeksi yang lebih serius seperti pneumonia dan infeksi aliran darah. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat telah menyebabkan munculnya galur bakteri yang resisten, sehingga pengobatan menjadi semakin sulit.
 
2.3 Mekanisme Kerja Zat Antibakteri
 
Senyawa aktif dalam kulit kayu manis, terutama sinamaldehida, bekerja dengan beberapa cara:
 
- Merusak dinding sel bakteri sehingga sel bakteri pecah dan mati
- Mengganggu fungsi membran sel bakteri sehingga zat di dalam sel keluar
- Menghambat kerja enzim penting bagi kehidupan bakteri
- Menghambat sintesis protein dan materi genetik bakteri sehingga bakteri tidak dapat berkembang biak
 
2.4 Penelitian Terdahulu
 
Beberapa penelitian sebelumnya telah membuktikan bahwa ekstrak kayu manis memiliki kemampuan antibakteri terhadap berbagai jenis bakteri. Hasanuddin (2021) dalam penelitiannya menemukan bahwa ekstrak kulit kayu manis dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Penelitian lain oleh Sari (2022) juga menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak kayu manis yang digunakan, semakin besar daya hambatnya terhadap bakteri yang diuji. Hal ini mendukung penelitian yang sedang dilakukan.
 
2.5 Kerangka Berpikir
 
Pohon kayu manis diambil kulit batangnya → dikeringkan dan dihaluskan → diekstrak menggunakan pelarut → diuji kandungan antibakterinya terhadap bakteri Staphylococcus aureus → diamati pertumbuhannya → dibandingkan dengan kelompok tanpa perlakuan → dianalisis apakah ada pengaruh atau tidak.
 
 
 
BAB III — METODOLOGI PENELITIAN
 
3.1 Jenis Penelitian
 
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen laboratorium dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap. Penelitian dilakukan dengan memberikan perlakuan konsentrasi ekstrak yang berbeda pada kelompok bakteri, lalu diamati perubahan yang terjadi.
 
3.2 Waktu dan Tempat Penelitian
 
Penelitian dilaksanakan pada bulan September hingga November 2026 di Laboratorium Biologi Universitas ............................................
 
3.3 Populasi dan Sampel
 
- Populasi: Bakteri Staphylococcus aureus murni yang disediakan oleh Laboratorium Mikrobiologi
- Sampel: Ekstrak kulit kayu manis dengan variasi konsentrasi 10%, 20%, 30%, 40%, dan kontrol tanpa ekstrak
 
3.4 Alat dan Bahan
 
Alat: cawan petri, tabung reaksi, gelas ukur, pipet tetes, pipet ukur, inkubator, neraca analitik, alat maserasi, penggaris, lampu spiritus, pinset, dan rak tabung reaksi.
 
Bahan: serbuk kulit kayu manis, alkohol 96%, bakteri murni Staphylococcus aureus, media agar nutrisi, kertas cakram, aquades, dan kertas label.
 
3.5 Prosedur Penelitian
 
3.5.1 Pembuatan Ekstrak
 
1. Kulit kayu manis dicuci bersih dengan air mengalir untuk menghilangkan kotoran
2. Diangin-anginkan hingga benar-benar kering di tempat yang teduh
3. Dihaluskan menggunakan blender hingga menjadi serbuk halus
4. Sebanyak 100 gram serbuk direndam dalam 500 ml alkohol 96% selama 3×24 jam, diaduk sesekali
5. Disaring menggunakan kain saring atau kertas saring
6. Filtrat yang diperoleh diuapkan menggunakan alat penguap hingga dihasilkan ekstrak kental
7. Dibuat variasi konsentrasi: 10%, 20%, 30%, dan 40% dengan melarutkan ekstrak kental ke dalam aquades
 
3.5.2 Uji Daya Hambat Bakteri
 
1. Media agar nutrisi disiapkan dan dituang ke dalam cawan petri yang sudah steril, dibiarkan memadat
2. Bakteri Staphylococcus aureus ditanam secara merata di atas permukaan media agar
3. Kertas cakram berdiameter 6 mm direndam dalam masing-masing konsentrasi ekstrak selama 1 menit
4. Kertas cakram diletakkan di atas media agar yang sudah ditanami bakteri
5. Cawan petri ditutup dan diinkubasi dalam posisi terbalik pada suhu 37°C selama 24 jam
6. Diamati dan diukur diameter zona bening yang terbentuk di sekitar kertas cakram menggunakan penggaris
7. Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali
 
3.6 Variabel Penelitian
 
- Variabel Bebas: Konsentrasi ekstrak kulit kayu manis (0%, 10%, 20%, 30%, 40%)
- Variabel Terikat: Diameter zona bening yang terbentuk (mm)
- Variabel Kontrol: Suhu inkubasi, waktu inkubasi, volume ekstrak, jumlah bakteri
 
3.7 Teknik Pengumpulan Data
 
Data dikumpulkan dengan mengukur diameter zona bening yang terbentuk di sekitar kertas cakram menggunakan penggaris. Pengamatan dilakukan berulang sebanyak 3 kali untuk setiap perlakuan, lalu dihitung rata-ratanya.
 
3.8 Teknik Analisis Data
 
Data yang diperoleh dihitung rata-rata dan simpangan bakunya, kemudian dianalisis menggunakan uji statistik ANOVA satu arah untuk mengetahui apakah ada perbedaan yang signifikan antar perlakuan. Jika hasil ANOVA berbeda nyata, dilanjutkan dengan uji BNT (Beda Nyata Terkecil) pada taraf 5%.
 
 
 
BAB IV — HASIL DAN PEMBAHASAN
 
4.1 Hasil Penelitian
 
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diperoleh hasil sebagai berikut:
 
Tabel 4.1 Rata-rata Diameter Zona Bening pada Berbagai Konsentrasi Ekstrak Kulit Kayu Manis
 
Konsentrasi Ekstrak Diameter Zona Bening (mm) Keterangan 
Kontrol (0%) 0,0 mm Tidak ada hambatan 
10% 6,0 mm Kurang efektif 
20% 9,3 mm Cukup efektif 
30% 13,0 mm Efektif 
40% 18,0 mm Sangat efektif 
 
Dari tabel di atas terlihat bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak yang digunakan, semakin besar diameter zona bening yang terbentuk. Konsentrasi 40% menghasilkan daya hambat terbesar yaitu rata-rata 18 mm, sedangkan konsentrasi 10% menghasilkan rata-rata 6 mm. Pada kelompok kontrol tanpa ekstrak sama sekali tidak terbentuk zona bening, yang berarti tidak ada penghambatan pertumbuhan bakteri.
 
Hasil analisis statistik menunjukkan nilai F hitung lebih besar daripada F tabel pada taraf 5%, yang berarti terdapat perbedaan yang sangat nyata antar perlakuan. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak kulit kayu manis memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penghambatan pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus.
 
4.2 Pembahasan
 
Hasil penelitian membuktikan bahwa ekstrak kulit kayu manis dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Hal ini terlihat dari terbentuknya zona bening di sekitar kertas cakram yang berisi ekstrak. Zona bening merupakan area di mana bakteri tidak dapat tumbuh karena pengaruh zat antibakteri dari ekstrak kayu manis. Semakin lebar zona bening yang terbentuk, semakin besar daya hambatnya terhadap bakteri tersebut.
 
Semakin tinggi konsentrasi ekstrak yang digunakan, semakin besar daya hambatnya. Hal ini terjadi karena pada konsentrasi yang lebih tinggi, kandungan senyawa aktif seperti sinamaldehida juga semakin banyak. Semakin banyak senyawa aktif yang bekerja, semakin besar kerusakan yang terjadi pada sel bakteri. Senyawa sinamaldehida bekerja dengan cara merusak dinding sel bakteri sehingga isi sel keluar dan bakteri mati. Selain itu, senyawa ini juga mengganggu fungsi membran sel dan menghambat enzim penting bagi kehidupan bakteri.
 
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hasanuddin (2021) yang menyatakan bahwa ekstrak kulit kayu manis efektif menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Demikian juga dengan penelitian Sari (2022) yang menemukan adanya hubungan positif antara konsentrasi ekstrak dengan daya hambat bakteri. Hal ini membuktikan bahwa kayu manis memiliki potensi yang sangat baik sebagai antibakteri alami yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.
 
Penggunaan bahan alami seperti kulit kayu manis memiliki keunggulan dibandingkan antibiotik kimia, yaitu biayanya lebih murah, mudah didapat di lingkungan sekitar, dan tidak menimbulkan efek samping yang berbahaya jika digunakan dengan dosis yang tepat. Namun, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk mengetahui dosis yang paling aman bagi tubuh manusia serta efektivitasnya terhadap jenis bakteri yang lain.
 
 
 
BAB V — PENUTUP
 
5.1 Kesimpulan
 
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan, dapat disimpulkan sebagai berikut:
 
1. Ekstrak kulit kayu manis berpengaruh nyata terhadap penghambatan pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak yang digunakan, semakin besar daya hambatnya.
2. Konsentrasi ekstrak kulit kayu manis 40% memberikan hasil paling efektif dengan rata-rata diameter zona bening sebesar 18 mm, sedangkan konsentrasi 10% menunjukkan daya hambat terendah yaitu rata-rata 6 mm.
 
5.2 Saran
 
1. Disarankan bagi peneliti selanjutnya untuk menguji konsentrasi yang lebih beragam serta menguji efektivitasnya terhadap jenis bakteri yang berbeda.
2. Masyarakat dapat memanfaatkan kayu manis sebagai alternatif antibakteri alami dalam kehidupan sehari-hari, namun tetap perlu berhati-hati dalam penggunaannya dan tidak menggantikan pengobatan medis yang diperlukan.
3. Diharapkan adanya penelitian lebih lanjut untuk mengetahui dosis yang paling aman dan efektif jika digunakan langsung pada tubuh manusia.
 
 
 
DAFTAR PUSTAKA
 
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2020. Potensi Tanaman Obat sebagai Sumber Antibakteri Alami. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengobatan Tradisional dan Komplementer.
 
Hasanuddin, A. 2021. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Kulit Kayu Manis terhadap Bakteri Staphylococcus aureus. Jurnal Biologi Tropis, 21(2): 45–52.
 
Nurhasanah, S. 2020. Kandungan Senyawa Aktif pada Kulit Kayu Manis dan Khasiatnya bagi Kesehatan. Jurnal Kimia dan Pendidikan Kimia, 5(1): 78–85.
 
Pelczar, M. J. dan Chan, E. C. S. 2016. Dasar-Dasar Mikrobiologi Jilid I. Diterjemahkan oleh Hadioetomo, R. S. Jakarta: UI Press.
 
Sari, D. K. 2022. Pengaruh Berbagai Konsentrasi Ekstrak Kulit Kayu Manis terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus. Jurnal Pendidikan Biologi Indonesia, 8(1): 34–41.
 
 
 
LAMPIRAN
 
Lampiran 1. Foto Penelitian
Lampiran 2. Tabel Data Mentah Pengukuran Zona Bening
Lampiran 3. Hasil Perhitungan Statistik
Lampiran 4. Surat Izin Penelitian
Lampiran 5. Dokumentasi Penelitian
 
 
 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama